ARDI KUSNADI

Kamis, 07 Mei 2020

Teori Belajar

BAB VI
TEORI KECERDASAN GANDA

            Teori kecerdasan ganda (Multiple Inteligenci) yang di kemukakan oleh Howard Gardner, seorang professor psikologi dari Harvard University, akan dijadikan acuan untuk lebih memahami bakat dan kecerdasan individu. Tulisan ini bertujuan untuk membahas dan lebih memahami tentang upaya yang perlu dilakukan oleh guru dan pendidik dalam membantu memfasilitasi pengembangan potensi individu peserta didik.

A. Siswa adalah Individu yang Unik
            Pada dasarnya siswa adalah individu yang unik. Setiap siswa memiliki potensi dan kemampuan yang berbeda antara satu dengan yang lainya. Tidak semua individu memiliki profil intelegensi yang sama, setiap individu juga memiliki  bakat dan minat belajar yang berbeda-beda.Pada era membanjirnya informasi dan pengetahuan seperti yang terjadi sekarang ini tidak semua individu harus mempelajari semua informasi. Setiap individu harus bersifat selektif dalam menentukan keterampilan dan pengetahuan yang akan dipelajari. Individu harus memiliki pilihan untuk memilih apa yang ingin dipelajari dan bagaimana mempelajarinya. Setiap siswa memang memiliki potensi yang berbeda-beda dan memiliki pilihan untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya, namun ada beberapa pengetahuan dan keterampilan dasar yang perlu dimiliki oleh sisiwa setelah menyelesaikan pendidikan disekolah yaitu kemampuan atau kompetensi dalam bidang:
1.    Bahasa (Linguistik).
2.    Matematika (Math).
3.    Ilmu Pengetahuan Sosial (Social Sciences).
4.    Ilmu Pengetahuan Alam ( Natural Sciences).
            Keempat bidang ini dapat dipandang sebagai kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh individu siswa setelah lulus dari sekolah karena setelah mereka memiliki kompetensi dasar dari keempat bidang tersebut mereka akan mudah dalam menjalankan kehidupannya.
B. Pentingnya Mengembangkan Keterampilan Hidup
            Kehidupan masyarakat dunia semakin berubah perubahan yang tampak dimana dari masyarakat ekonomi pertanian menjadi masyarakat industri dan sekarang sudah berada dalam zaman masyarakat informasi. Namun untuk menuju ekonomi informasi tampaknya Indonesia masih jauh tertinggal dari negara lain.
            Proses pendidikan dan pembelajaran pada masyarakat pertanian masih terpusat pada guru. Sedangkan pada masyarakat industri pembelajaran bergeser berpusat pada kurikulum. Pada masyarakat informasi, proses pembelajaran berpusat pada siswa atau peserta didik dan hasil belajarnya pun banyak ditentukan oleh komunikasi interaktif. Pertanyaannya adalah tenaga-tenaga pendidikan seperti apa dengan kualisifikasi pengetahuan dan keterampilan, pengalaman, sikap dan nilai macam apaa yang perlu dimiliki? Bagaimana mereka mampu menghayati perubahab-perubahan masyarakat dunia yang akan terus terjadi? Bagaimana komitmen, dan kemampuan teknis apa yang diperlukan agar para pendidik mampu membawa peserta didinya untuk siap dalam percaturan dunia?
            Oleh karena itu, kita membutuhkan perancang-perancang pembelajaran (instruktional designers) yang propesional dan benar-benar terampil dalam merancang pola-pola pembelajaran induvidual atau pembelajaran “terpribadi” (individualized instruktions). Pendidik diharapkan menguasai keterampilan-keterampilan membelajarkan sisiwa agar peserta didik menguasai keterampilan-keterampilan dasar yang kemudian berkembang menjadi keterampilan yang lebih tinggi sebagai alat kehidupannya.
            Keterampilan tidak diartikan dan dibatasi secara sempit, dan keterampilan bukan hanya keterampilan kerja apalagi keterampilan hanya untuk keterampilan itu sendiri. Keterampilan dalam maknanya yang luas dapat diartikan sebagai keterampilas demi kehidupan dan penghidupan yang bermartabat dan sejatra lahir dan bathin (Santoso S. Hamijoyo, 2002;3). Keterampilan hidup inilah yang dalam praktek kependidikan perlu dimaknai dan diterjemahkan secara lebih terperinci dan operasional agar dapat dilaksanakan dalam praktek pembelajaran di kelas.
            Praktek-praktek pembelajaran yang masih mengandalkan pada cara-cara lama yang menganggap anak hanya perlu melaksanakan kewajiban yang sudah diberikaan pada guru dan orang tua harus diubah. Pembelajran satua arah berorientasi pada keinginan guru dan kurikulum yang cendrung sangat skolastik yang mementingkan perestasi akademik saja perlu dikaji ulang karena sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan masyarakat. Kecenderungan pembelajaran yang selalu menekankan kepada aspek skolastik ini akan menghasilkan generasi muda yang kurang berinisiatif seperti hanya menunggu instruksi, takut salah, malu mendahului yang lain, hanya ikut-ikutan, salah tapi masih berani berbicara (tidak bertanggung jawab), mudah bingung karena kurang memiliki percaya diri, serta tidak peka terhadap lingkungan. Disamping itu generasi demikian akan memiliki sifat-sifat yang tidak sabar, ingin cepat berhasil meskipun melalui jalan pintas, kurang menghargai proses, mudah marah sehingga banyak menimbulkan kerusuhan dan tawuran.
            Pendekatan skolastik dalam pembelajaran sangat mementingkan aspek-aspek akademik yang cendrung memberikan tekanan pada perkembangan intelegensi yang terbatas pada aspek kognitif, sehingga manusia telah direduksi menjadi sekedar aspek kognitif. Kondisi ini memicu terjadinya masalah-masalah sosial yang disebabkan karena lemahnya social capital sehingga generasi muda kurang memperoleh bekal keterampilan untuk hidup.

C. Teori Kecerdasan Ganda
            Salah satu peneliti tentang kecerdasan manusia adalah Prof. Howard Gardner yang merupakan seorang ahli psikologi kognitif dari universitas Harvard. Gardner (dalam Suciati, 2005) mentyatakan bahwa IQ tidak boleh dianggap sebagai tinggi atau rendah seperti tekanan darah manusia dan kecerdasan seseorang tidak dapat diukur secara mutlak dengan tes-tes IQ. Tes IQ hanya mampu mengukur kemampuan seseorang dalam mengerjakan tes IQ tersebut saja.
            Gardner juga menemukan bahwa setiap orang memiliki beberapa kecerdasan, tidak hanya satu kecerdasan. Gardner menyebut istilah ini dengan “Kecerdasan Ganda atau Intelegensi Ganda atau Multiple Intelligences”. Kecerdasan ganda adalah kemampuan untuk memecahkan masalah atau memecahkan atau menciptakan suatu produk yang bernilai dalam satu latar belakang budaya tertentu. Artinya, setiap orang j9ika dihadapkan pada suatu masalah, ia memiliki sejumlah kemampuan untuk memecahkan masalah yang berbeda sesuai dengan konteknya.
            Penilaian Gardner mengidentifikasi ada 8 macam kecerdasan manusia dalam memahami dunia nyata, kemudian diikuti oleh tokoh-tokoh lain dengan menambahkan dua kecerdasan lagi, sehingga menjadi 10 macam kecerdasan. Berikut ini akan dijelaskan secra singkat ke-10 kecerdasan tersebut, yaitu:
1. Kecerdasan Verbal / Bahasa (Verbal / Linguistik Intelligence)
            Merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan berbicara, menulis, dan cara mengekpresikan diri seseorang tersebut dalam kata-kata, misalnya tentang bahsa, puisi, humor cerita, tata bahasa, berpikir simbolik, adalah ekspresi dari kecerdasan ini dan kecerdasan ini dapat diperkuat dengan kegiatan-kegiatan berbahasa baik lisan maupun tertulis. Kecerdasan bahasa berisi kemampuan untuk berfikir dengan kata-katadan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan arti yang kompleks. Contoh orang-orang yang memiliki kecerdasan bahasa yaitu:
§  Pengarang.
§  Penyair.
§  Wartawan.
§  Pembicara.
§  Pembaca Berita.
2. Kecerdasan Matermatik/Logika (Mathematikal Intelligence / Logical)
            Kecerdasan logika / matematik sering disebut berpikir ilmiah, termasuk berpikir dedukti dan induktif. Kecerdasan ini memungkinkan seseorang terampil dalam melakukan hitungan, penghitungan atau kuantifikasi, mengemukakan proposisi dan hipotesis dan melakukan operasi matematis yang kompleks. Contoh-contoh orang yang memiliki kecerdasan matematis logis adalah ilmuwan, matemati-kawan, akuntan, insinyur, dan pemrogram komputer.
3. Kecerdasan Visual / Ruang (Visual / Spatial Intelligence)
            Kecerdasan visual berkaitan dengan menggambar, melukis, menggunakan grafik dan peta, dan mencari tempat-tempat / rote yang berbeda-beda, misalnya seni rupa, navigasi, kemampuan pandang ruang, arsitektur, permainan catur,. Kuncinya adlaah kemampuan indera pandang dan berimajinasi.
4. Kecerdasan tubuh / gerak tubuh (Body / Kinesthetic Intelligence)
            Kecerdasan tubuh adalah kecerdasan yang memungkinkan seorang memanipulasi objek dan cakap melakukan aktivitas fisik. Contoh-contoh orang yang memiliki kecerdasan tubuh yaitu atlet, penari, ahli bedah, dan pengrajin.
5. Kecerdasan Musikal / ritmik (Musical / Rhythmic Intelligence)
            Kecerdasan ritmik melibatkan kemampuan manusia untuk mengenali dan menggunakan ritme dan nada, serta kepekaan terhadap bunyi-bunyian dilingkungan sekitar suara manusia. Musik dapat menenangkan pikiran, memacu kembali aktivitas, memperkuat semangat nasional. Dan dapat meningkatkan keimanan serta rasa syukur. Kecerdasan musikal dibuktikan dengan adanya rasa sensitif terhadap nada, melodi, dan irama musik. Orang-orang yang memiliki kecerdasan musikal yang baik antara lain: komposer, konduktor, musisi, kritikus musik, pembuat instrumen, dan orang-orang yang sensitif terhadap unsur suara.
6. Kecerdasan Interpersonal (Interpersonal Intelligence)
            Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan dimana seseorang tersebut dapat mengerti keadaan orang lain, dapat berhubungan baik dengan banyak orang. Kecerdasan ini berhubungan dengan kemampuan bekerja sama dan berkomunikasi baik verbal maupun nonverbal dengan orang lain. Mampu mengenali perbedaan perasaan, tempramen, maupun motivasi orang lain. Pada tingkat yang lebih tinggi, kecerdasan ini dapat membaca konteks kehidupan orang lain, kecendrungannya, dan kemungkinan keputusan yang akan diambil.
            Kecerdasan interpersonal merupakan kapasitas yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat memahami dan dapat melakukan interaksi secara fektif dengan orang lain. Kecerdasan interpersonal akan dapat dilihat dari beberapa orang seperti: guru yang sukses, pekerja sosial, aktor, politisi. Saat ini orang mulai menyadari bahwa kecerdasan interpersonal merupakan salah satu faktor yang sangat kesuksessan seseorang.


7. Kecerdasan Intrapersonal (Intrapersonal Intelligence)
            Kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan untuk mengerti dirinya sendiri yang mengendalikan pemahaman terhadap aspek internal diri seperti, perasaan, proses berpikir, refleksi diri, intuisi, dan spiritual. Menurut Gardner kecerdasan ini merupakan jenis yang paling individual sifatnya, dan untuk menggunakannya diperlukan kecerdasan yang lain. Biasanya orang yang memiliki kemampuan ini selalu ingin membuat dirinya lebih baik dari sebelumnya.
            Kecerdasan intrapersonal diperlihatkan dalam bentuk kemampuan dalam membangun persepsi yang akurat tentang diri sendiri dan menggunakan kemampuan tersebut dalam membuat rencana dan mengarahkan orang lain.
8. Kecerdasan Naturalis (Naturalistic Intelligence)
            Kecerdasan naturalis banyak dimiliki oleh para pakar lingkungan. Seorang penduduk didaerah pedalaman dapat mengenali tanda-tanda akan terjadi perubahan lingkungan, misalnya dengen melihat gejala-gejala alam. Dengan melihat rumput/daun yang patah, ia dapat memastikan siapa yang baru saja melintas. Kecerdasan natural ini mempunyaiKeahlian mengenali dan mengkategorikan spesies flora dan fauna dilingkungannya. Para pencinta alam adalah contoh orang tergolong sebagai orang-orang yang memiliki kecerdasan ini.
9. Kecerdasan Spiritual (Spiritualist Intelligence)
            Kecerdasan spiritual banyak dimiliki oleh para rohaniwan. Kece5rdasan ini dapat dikembangkan pada setiap orang melalui pendidikan agama, kontemplasi kepercayaan, dan refleksi teologis.
10. Kecerdasan Eksistensial (Exsisitensialist Intelligence)
            Kecerdasan eksistensial banyak dijumpai pada para filusuf. Mereka mampu menyadari dan menghayati dengan benar keberadaan dirinya didunia ini dan apa tujuan hidupnya. Melalui kontempalsi dan refleksi diri kecerdasan ini dapat berkembang.
            Gardner juga mengelompokkan kecerdasan manusia menjadi tiga kelompok yaitu:
1.    Kelompok kecerdasan yang terkait dengan objek (object related) oleh objek            yang dihadapi.
2.    Kelompok kecerdasan yang bebas objek (object free) yaitu kelompok           kecerdasan yang tidak dipengaruhi oleh objek, tapi dipengaruhi oleh sistem           bahasa dan musik yang didengar.
3.    Kelompok kecerdasan yang dipengaruhi hubungan dengan orang lain          (person related) yaitu kelompok yang bertalian dengan interaksi orang lain.

D. Kriteria Keabsahan Munculnya Teori Kecerdasan
1. Memiliki Dasar Biologis
            Kecendrungan untuk mengetahui dan memecahkan masalah merupakan sifat dasar biologis/fisikologis manusia. Misalnya: gerak tubuh, berkomunikasi dengan orang lain, berimajinasi sendiri, menggunakan ritme dan suara, dan lain-lain. Kecendrungan kecendrungan ini semua berakar pada sistem biologis manusia itu sendiri.
2. Bersifat Universal Bagi Spesies Manusia
            Setiap cara untukmemahami sesuatu selalu ada pada setiap budaya, tidak peduli kondisi sosio-ekonomi dan pendidikan. Walaupun berkembang jenis keterampilan pada budaya yang berbeda, namun hadirnya kecerdqsan adalah bersivat universal. Dengan kata lain, kecerdasan berakar pada keberadaan spesies manusia itu sendiri.
3. Nilai Budaya Suatu Keterampilan
            Cara untuk memahami sesuatu didukung oleh budaya manusia dan merupakan hal yang harus diteruskan kepada generasi penerus. Contoh: pengembangan bahasa bisa berupa tulisan pada suatu budaya, roglif pada budaya lain, pesan-pesan lisan, bahasa-bahasa tanda, pqda budaya lain pula. Namun bahasa formal dinilai tinggi dan merupakan kriteria pendidikan dan sosial seseorang.
4. Memiliki Basis Neuro
            Setiap kecerdasan memilioki bagian tertentu pada otak sebagai pusat kerjanya, dan yang dapat diaktifkan atau dipicu oleh informasi eksternal maupun internal.
5. Dapat Dinyatakan dalam Bentuk Simbol
            Setiap kcerdasan dapat dinyatakan dalam bentuk simbol atau tanda-tanda tertentu. Misalnya simbol kata, gambar, angka, dan lain-lain. Adanya simbol-simbol tertentu, merupakan kunci bahwa kecerdasan dapat diahlikan atau diajarkan.

E. Strategi Dasar Pembelajaran Kecerdasan Ganda
            Ada beberapa strategi dasar dalam kegiatan pembelajaran untuk mengem-bangkan kecerdasan ganda yang diungkapkan oleh Gardner, yaitu:
1.    Awakening Intelligence (Activating The Senses and Turning on The Brain)
            Membangun/memicu kecerdasan, yaitu upaya untuk mengaktifkan indera dan kerja otak.
2.    Amplifying Intelligence (Exercise and Strengthenning Awacened Capacities)
            Memperkuat kecerdasan, yaitu dengan cara memberi latihan dan memper-kuat kemampuan membangunkan kecerdasan.
3.    Teaching for/With Intelligence (Structuring Lesson for Multiple Intelligence)
     Mengajarkan dengan kecerdasan, yaitu upaya-upaya mengembangkan struktur pelajaran yang mengacu pada penggunaan kecerdasan ganda.
4.    Transferring Intelligences (Multiple Way of Knowing Beyond The Classroom)
       Mentransfer kecerdasan, yaitu usaha untuk memanfaatkan berbagai cara yang telah dilatihkan dikelas untuk memahami realitas diluar kelas atau pada lingkungan nyata.
           
F. Kegiatan untuk Meningkatkan Kecerdasan Ganda
            Sejumlah cara atau metode dapat dilkukan untuk meningkatkan kemampu-an-kemampuan individu. Setiap metode digunakan untuk meningkatkan jenis kecerdasan yang spesifik yaitu:
1.    Meningkatkan kecerdasan bahasa dapat dilakukan dengan cara mengada-kan permainan merangkai kata, buatlah buku harian atau usahakan untuk menulis tentang apa saja yang ada dalam pikiran setiap harinya sebanyak 250 kata, dan sediakan waktu untuk bercerita secara teratur dengan keluarga atau sahabat.
2.    Cara untuk meningkatkan kecerdasan spesial yaitu seringlah berlatih permainan gambar tiga dimensi, puzzle, kubus, dan teka-teki visual lainnya, dekorasi ulang interior dan taman rumah, buatlah struktur benda dengan logo, atau bahan mainan tiga dimensi lainnya.
3.    Meningkatkan kecerdasan matematis logis dapat dilakukan dengan cara berlatih menghitung soal-soal matematika sederhana dikepala (berapa 21X40 dalam 5 detik), pelajari cara menggunakan sempoa, sering-seringlah mengisi teka-teki silang/asah otak lainnya.
4.    Kecerdasan musikal dapat dilatih dengan cara mengunjungi konser atau pertunjukan  musik, bernyanyilah dikamar mandi atau dimanapun yang memungkinkan untuk bersenandung, luangkan waktu selama satu jam setiap minggu untuk mendengarkan gaya musik yang tidak dikenal akrab (western, jazz, country, world music, dan lain-lain.
5.    Meningkatkan kecerdasan kinestetik dapat dilakukan dengan cara ber-gabung dan berlatih bersama dengan klub olaraga dilingkungan, pelajari-lah kegiatan dansa, kumpulkanlah berbagai macam benda yang memiliki berbagai macam tekstur dan bentuknya khas, cobalah kenali benda-benda tersebut dengan  mata tertutup.
6.    Cara atau metode yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kecerdasan interpersonal yaitu: belilah kotak kartu nama, penuhi dengan nama kontak bisnis, teman, kenalan, kerabat, dan orang lain, serta tetaplah menjalin hubungan dengan mereka. Luangkan waktu 15 menit setiap hari untuk memperaktekkan mendengarkan secara aktif dengan pasangan hidup atau sahabat dekat, bekerja samalah dengan satu orang atau lebih dalam sebuah proyek yang berdsarkan pada kesamaan minat (seni kain perca, pemain bass, penulisan artikel tentang pantai).
7.    Meningkatkan kecerdasan intrapersonal dapat dilkukan dengan cara sebagai berikut: pilihlah tokoh pavorit yang positif, dan baca serta jadikan mereka sebagai kawan imajinasi dalam memecahkan suatu permasalahan yang membutuhkan waktu pemahaman yang dalam, lakukanlah sesuatu yang menyenangkan diri sekurang-kurangnya sekali sehari, luangkan waktu sekitar 10 menit setiap sore hari untuk meninjau kembali secara mental berbagai macam perasan dan gagasan yang dialami.
8.    Metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan kecerdasan naturalis antara lain peliharahlah hewan favorit, tingkatkan frekuensi melihat acara-acara mengenai programflora dan fauna, (ini yang paling mudah) cobalah untuk menahan diri untuk tidak merusak lingkungan, seperti mencoret-coret meja, menginjak rumput kotor, dan memetik bunga yang sedang tumbuh.

G. Faktor-faktor dalam Implementasi Teori Kecerdasan Ganda
            Implementasi teori kecerdasan ganda dalam aktivitas pembelajaran memerlukan dukungan komponen-komponen sistem persekolahan sebagai berikut:
1)        Orang tua murid.
2)        Guru.
3)        Kurikulum dan fasilitas.
4)        Sistem penilaian.
            Komponen masyarakat, dalam hal ininorang tua murid, perlu memberikan dukungan yang optimal agar implementasi teori kecerdasan ganda disekolah dapat berhasil. Oarang tua, dalam konteks pengembangan kecerdasan ganda perlu mem berikan sedikit kebebasan kepada anak mereka untuk dapat memilih kompetensi yang ingin dikembangkan sesuai dengan kecerdasan dan bakat yang mereka miliki.
            Guru memegang peran yang sangat penting dalam implementasi teori kecerdasan ganda. Agar implementasi teori kecerdasan ganda dapat mencapai hasil seperti apa yang diinginkan ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu:
1.      Kemampuan guru dalam mengenali kecerdasan individu siswa.
2.      Kemampuan mengajar dan memanfaatkan waktu mengajar secara propesional.
            Kemampuan guru dalam mengenali kecerdasan ganda yang dimiliki oeh siswa merupakan hal yang sangat penting. Faktor ini akan sangat menentukan dalam merencanakan proses belajar yang harus ditempuh oleh siswa. Ada berapa banyak cara yang dapat dilakukan guru untuk mengenali kecerdasan spesifikyang dimiliki oleh siswa. Semakindekat hubungan guru dengan siswa, maka akan semakin muda bagi para guru untuk mengenali karakteristik dan tingkat kecerdasan siswa.
            Setelah mengetahui kecerdasan setiap individu siswa, maka langkah-langkah berikutnya adalah merancang kegiatan pembelajaran. Armstrong (2004) mengemukakan proporsi waktu yang dapat digunakan oleh guru dalam mengimplementasikan teori kecerdasan ganda yaitu:
·         30% pembelajaran langsung.
·         30% belajar kooperatif.
·         30% belajar independent.
            Implementasi teori kecerdasan ganda membawa implikasi bahwa guru bukan lagi berperan sebagai sumber (resources), tapi harus lebih berperan sebagai menejer kegiatan pembelajaran. Dalam menerapkan teori kecerdasan ganda, sistem sekolah perlu menyediakan guru-guru yang kompeten dan mampu membawa anak mengembangkan potensi-potensi kecerdasan yang mereka miliki. Guru musik misalnya, selain mampu memainkan instrumen musik, ia juga harus mampu mengajarkannya sehingga dapat menjadi panutan yang baik bagi siswa yang memiliki kecerdasan musikal.
            Sekolah yang menerapkan teori kecerdasan ganda juga perlu menyediakan fasilitas pendukung selain guru yang berkualitas. Fasilitas tersebut dapat digunakan oleh guru dan siswa dalam meningkatkan kecerdasan-kecerdasan yang spesifik.
            Fasilitas dapat berbentuk media pembelajaran dan peralatan serta perlengkapan pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kecerdasan ganda. Contoh fasilitas pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kecerdasan ganda antara lain: peralatan musik, peralatan olaraga, dan media pembelajaran yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan spesifik.
            Sistem penilaian yang diperlukan oleh sekolah yang menerapkan teori kecerdasan ganda berbeda dengan sistem penilaian yang digunakan pada sekolah konvensional. Sekolah yang menerapkan teori kecerdasan ganda pada dasarnya berasumsi bahwa semua individu itu cerdas. Penilaian yang digunakan tidak berorientasi pada input dari proses pembelajaran tapi lebih berorientasi pada proses dan kemajuan (progress) yang diperlihatkan oleh siswa dalam mempelajari suatu keterampilan yang spesifik. Metode penilaian yang cocok dengan sistem seperti ini adalah metode penilaian portofolio. Sistem penilaian portofolio menekankan pada perkembangan bertahap yang harus dilalui oleh siswa dalam mempelajari sebuah keterampilan atau pengetahuan.

H. Mengembangkan Kecerdasan Ganda Dalam Kegiatan Pembelajaran
            Pendidikan/pembelajaran ditinjau dari sudut pandang kecerdasan ganda lebih mengarah pada hakekat dari pendidikan itu sendiri, yaitu secara langsung berhubungan dengan eksistensi, kebenaran, dan pengetahuan.
            Untuk memberi dasar terhadap teori yang dikemukakan, Gardner merancang dasar-dasar “tes” tertentu, dimana pada setiap kecerdasan harus mempertimbangkan sebagai intelegensi yang terlatih dan memiliki banyak pengalaman, selain talenta atau bakat. Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam teori kecerdasan ganda, yaitu:
  1. Setiap orang memiliki semua kecerdasan-kecerdasan itu,
  2. Banyak orang dapat mengembangkan masing-masing kecerdasannya sampai ketingkat optimal,
  3. Kecerdasan biasanya bekerja bersama-sama dengan cara yang unik, dan
  4. Ada banyak cara untuk menjadi cerdas.
            Teori kecerdasan ganda merupakan model kognitif yang menjelaskan bagaimana individu-individu menggunakan kecerdasannya untuk mencegah masalah dan bagaimana hasilnya. Tidak seperti model-model lain yang berorientasi proses, pendekatan Gardner lebih berorientasi bagaimana pikiran manusia mengoprasi atau mengolah, menggunakan dan menguasai lingkungan.
            Pengalaman-pengalaman menyenangkan ketika belajar akan menjadi aktivator bagi perkembangan kecerdasan pada tahap perkembangan berikutnya. Sedangkan pengalaman-pengalaman yang menakutkan, memalukan, menyebabkan marah, dan pengalaman emosi negative lainnya akan menghambat perkembangan kecerdasan pada tahap perkembangan berikutnya.
            Kegiatan-kegiatan yang dapat digunakan untuk mengembngkan kecerdasan ganda antara lain; dengan menyediakan hari-hari karir, studi tour, biografi, pembelajaran terprogram, kegiatan-kegiatan eksprimen, majalah dinding, papan display, membaca buku-buku yang bertujuan untuk mengembangkan kecerdasan ganda, membuat tabel perkembangan kecerdasan ganda (human intelligence hunt).
            Setiap siswa memiliki perbedaan kecenderungan dalam perkembangan kecerdasan gandanya, maka guru perlu menggunakan strategiumum maupun khusus dalam pembelajaran untuk mengembangkan seluruh kecerdasan siswa secara optimal. Teori kecerdasan ganda juga mengatakan berdaskan bahwa tidak ada satupun pendekatan atau strategi yang cocok digunakan bagi semua siswa. Dalam hal pengukuran kecerdasan ganda lebih mengutamakan pada studi dokumentasi dan proses pemecahan masalah. Apabila kegiatan diatas dapat dilakukan maka keterampilan kognitif siswapun dapat berkembang dengan sendirinya.
            Ada satu alternatif lain yang dapat digunakan dalam rangka memantau perkembangan kecerdasan siswa dikelas, yaitu dengan memberdayakan siswa sendiri. Artinya, cheklist yang mencakup kecerdasan-kecerdasan tadi yang mengisi bukannya guru, tetapi pengisian dilakukan  oleh para siswa. Kegiatan dikelas pada saat-saat tertentu adalah pengisian cheklist tentang kecerdasan-kecerdasan masing-masing anak. Mereka saling memberikan penilaian antar teman.
            Perkembangan kecerdasan juga dapat dilakukan dengan teknik “konseling sebaya”/”tutor sebaya”. Caranya, guru menyeleksi siapakah yang memiliki keunggulan dalam bidang tertentu. Anak yang memiliki keunggulan dalam bidang matematika misalnya, diminta membimbing teman-temannya yang kurang dalam matematika. Demikian juga untuk bidang-bidang kecerdasan yang lain. Pembimbing didalam kelompok dapat bergantian tergantung pada kecerdasan apa yang akan dikembangkan. Misalnya, Susi akan menjadi pembimbing untuk kecerdasan musik, tetapi ia akan dibimbing oleh teman lainnya dalam kecerdasan matematika, dan seterusnya.
            Pendidikan ini sangat tepat digunakan untuk anak-anak SMP dan SMA, mengingat pada dasarnya mereka lebih suka berbicara dan bergaul dengan teman sebayanya dari pada dengan gurunya. Disamping itu, model konseling sebaya atau tutor sebaya dalam pembeljaran kecerdasan ganda memungkinkan berbagai aspek dalam diri anak dapat berkembang selaras dan optimal. Kelompok belajar semacam ini sangat potensial untuk mengembengkan kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal. Guru dituntut untuk mampu mendeteksi anak-anak yang memiliki kecerdasan-kecerdasan unggul, dan membentuk kelompok-kelompok sesuai dengan kebutuhan.
            Pendidikan/pembelajaran kecerdasan ganda berorientasi pada pengem-bangan potensi anak bukan berorientasi pada idealisme guru atau orang tua apalagi ideologi politik. Anak berkembang agar mampu membuat penilaian dan keputusan sendiri secara tepat, bertanggung jawab,percaya diri, dan mandiri tidak bergantung pada orang lain, kreatif, mampu berkolaborasi, serta dapat membeda-kan mana yang baik dan tidak baik. Keterampilan-keterampilan ini sangat dibutuhkan oleh manusia-manusia yang hidup didaerah ekonomi informasi abad global.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGANNYA

SAMISANOV Menjelajah Negeri